NABIRE, WALHI PAPUA — Bertepatan dengan Hari Keadilan Ekologis, 20 September 2026, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Papua melakukan investigasi kebakaran hutan dan lahan di sepanjang jalur Nabire–Topo, Papua Tengah.
Dalam pemantauan tersebut, tim WALHI Papua menemukan sejumlah titik hutan terbakar mulai dari Wadio, Gedo Dimi hingga Kilometer 38. Bahkan, kobaran api masih ditemukan di sekitar kawasan Bandara Nabire.
Perjalanan tim dimulai dari Nabire menuju Topo. Semakin jauh meninggalkan kawasan perkotaan, kondisi bentang alam di sepanjang jalan mulai berubah.
Di jalur Wadio hingga Gedo Dimi, bekas kebakaran terlihat di sejumlah titik. Tutupan hutan di sisi jalan tampak menghitam akibat terbakar.
Memasuki Kilometer 38, kondisi kebakaran semakin terlihat. Di sepanjang jalur yang dipantau, tim menemukan sejumlah kawasan hutan yang telah hangus.
Tim kemudian turun di tiga lokasi dengan kondisi kebakaran cukup besar untuk mendokumentasikan situasi lapangan melalui foto dan video.
Dokumentasi tersebut menjadi bagian dari upaya WALHI Papua menyampaikan kondisi kebakaran sekaligus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar hutan.
WALHI: Hutan Berkaitan dengan Kehidupan Manusia
Perwakilan WALHI Papua di Nabire, Abeth Gobai, mengingatkan masyarakat untuk menghentikan praktik pembakaran hutan.
“Stop membakar hutan. Hutan adalah paru-paru dunia. Tanpa hutan manusia tidak akan menghirup udara segar,” kata Abeth Gobai kepada Nadi Papua.
Menurut Abeth, kehidupan masyarakat memiliki hubungan erat dengan keberadaan alam. Hutan selama ini menjadi sumber berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk hasil alam dan pangan.
“Tanpa hutan kita akan berada di bawah polusi. Tanpa hutan kita tidak akan mengambil hasil alam, tidak akan berburu, dan tidak akan mengambil sesuatu yang baik dan sehat dari alam itu sendiri,” ujarnya.
Api Masih Menyala di Sekitar Bandara Nabire
Setelah melakukan pemantauan di jalur Nabire–Topo, tim WALHI Papua melanjutkan perjalanan menuju kawasan sekitar Bandara Nabire.
Di sepanjang perjalanan, tim kembali menemukan sejumlah titik kebakaran. Asap terlihat tebal dan di beberapa lokasi menyebar hingga ke badan jalan.
Di sekitar kawasan bandara, tim menemukan kobaran api yang masih menyala.
Asap dari kebakaran tersebut tidak hanya mengganggu jarak pandang di sekitar lokasi, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas udara yang dihirup masyarakat.
Abeth menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena paparan asap kebakaran dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama sistem pernapasan.
Menurutnya, persoalan kebakaran hutan tidak berhenti pada kerusakan ekosistem. Ketika asap masuk ke ruang hidup masyarakat, dampaknya juga berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan warga.
Pemerintah Diminta Serius Tangani Kebakaran
Abeth meminta pemerintah melihat kebakaran hutan di Nabire sebagai persoalan serius dan strategis.
Menurutnya, penanganan kebakaran membutuhkan keterlibatan pemerintah bersama instansi yang memiliki kewenangan, termasuk pemadam kebakaran dan instansi terkait lainnya.
“Pemerintah harus melihat ini secara serius. Ini harus menjadi masalah strategis agar dapat menyelesaikan masalah ini,” katanya.
Ia juga mengingatkan potensi meluasnya kebakaran apabila titik-titik api tidak segera ditangani.
Menurut Abeth, upaya pencegahan dan penanganan sejak dini diperlukan agar kebakaran tidak merambat ke kawasan hutan lainnya.
Jaga Hutan, Selamatkan Manusia
Temuan WALHI Papua di sepanjang jalur Nabire–Topo menjadi perhatian tersendiri karena dilakukan bertepatan dengan momentum Hari Keadilan Ekologis.
Bagi WALHI Papua, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
Udara yang dihirup, hasil alam yang dikonsumsi, ruang hidup masyarakat hingga sumber pangan memiliki hubungan dengan keberadaan hutan.
Karena itu, Abeth kembali mengajak masyarakat dan pemerintah menjaga hutan sebelum kerusakan semakin meluas.
“Kami ingatkan lagi. Stop membakar hutan. Hutan adalah paru-paru dunia. Tanpa hutan manusia tidak akan menghirup udara segar. Tanpa hutan kita tidak akan mengambil hasil alam, dan tidak akan berburu. Tanpa hutan kita tidak akan mengambil sesuatu yang baik dan sehat dari alam itu sendiri,” katanya.
“Jaga hutan, selamatkan manusia, selamatkan tanah air,” lanjut Abeth.(*)





