DEIYAI, WALHI PAPUA — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Papua bersama Komunitas Anak Danau (KOMANDAN) Deiyai membangun kolaborasi untuk memantau dan mengkaji berbagai persoalan lingkungan di Kabupaten Deiyai, termasuk pendangkalan Danau Tigi dan kebakaran hutan di sekitar wilayah tersebut.
Kolaborasi itu mengemuka dalam pertemuan WALHI Papua bersama KOMANDAN Deiyai di Kabupaten Deiyai, Rabu (23/9/2026).
Direktur WALHI Papua, Maikel Peuki, mengatakan pihaknya tengah melakukan investigasi dan pemantauan lapangan untuk mengumpulkan data terkait kondisi lingkungan di Deiyai.
“Kami dari WALHI Papua sedang melakukan investigasi dan pemantauan lapangan terkait pendangkalan danau serta kebakaran hutan yang berada di sekitar Kabupaten Deiyai. Kami juga sudah mulai mengambil data dan bertemu dengan masyarakat serta komunitas untuk mengetahui dampak yang sedang terjadi,” ujar Mus.
Menurutnya, investigasi tidak hanya dilakukan melalui pengumpulan data lapangan, tetapi juga dengan membuka ruang dialog bersama masyarakat dan komunitas lokal.
Mus mengatakan keterlibatan KOMANDAN Deiyai penting karena komunitas tersebut dibentuk oleh anak-anak daerah yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.
“Saat ini kami juga sudah bertemu dengan KOMANDAN. Mereka luar biasa. Mereka adalah anak-anak negeri yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, tanah, dan masyarakat di Kabupaten Deiyai,” katanya.
WALHI Siapkan Data untuk Dibahas Bersama Pemerintah
Mus mengatakan hasil investigasi lapangan akan dianalisis dan disusun menjadi dokumen serta data yang dapat digunakan sebagai bahan pembahasan bersama berbagai pihak.
WALHI Papua berencana membuka ruang diskusi dengan pemerintah daerah, DPRD, tokoh adat, tokoh masyarakat dan komunitas lingkungan untuk membahas persoalan ekologis yang ditemukan di lapangan.
“Hasil investigasi kita akan dianalisis dan dibuat menjadi dokumen dan data. Setelah itu kita akan berdiskusi dengan beberapa pihak yang ada di Kabupaten Deiyai, baik pemerintah, DPR, tokoh adat, tokoh masyarakat maupun komunitas,” jelasnya.
Ia juga mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, termasuk menjaga kebersihan kawasan danau dan tidak membuang sampah sembarangan.
“Danau adalah mama yang memberikan kehidupan bagi masyarakat yang berada di Kabupaten Deiyai. Karena itu kita semua harus menjaganya,” tegas Mus.
KOMANDAN Dorong Perlindungan Danau Tigi
Penanggung Jawab KOMANDAN Deiyai, Andreas Yeimo, mengapresiasi kunjungan WALHI Papua. Ia menilai pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat gerakan masyarakat dalam menjaga lingkungan, terutama ekosistem Danau Tigi.
“Kami mengapresiasi kunjungan WALHI Papua ke Deiyai. Ini menjadi kesempatan bagi kami untuk berdiskusi dan membangun kerja sama dalam upaya menjaga lingkungan dan Danau Tigi,” ujar Andreas.
Menurut Andreas, KOMANDAN ingin membangun gerakan bersama yang melibatkan masyarakat, pemuda, pemerintah daerah dan organisasi lingkungan.
Ia menilai perlindungan Danau Tigi membutuhkan langkah konkret dan berkelanjutan, bukan hanya kegiatan seremonial.
Langkah tersebut dapat dilakukan melalui edukasi lingkungan, penghijauan, pembersihan kawasan danau, pendataan persoalan ekologis hingga mendorong kebijakan daerah yang memberikan perlindungan terhadap Danau Tigi.
“Kami berharap pertemuan ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi dilanjutkan dengan langkah-langkah konkret. Danau Tigi bukan hanya tempat wisata, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat yang harus dijaga untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang,” katanya.
Masyarakat Diminta Terlibat
KOMANDAN Deiyai juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam setiap pembahasan mengenai pengelolaan dan perlindungan Danau Tigi.
Andreas mengatakan kolaborasi dengan WALHI Papua diharapkan dapat memperkuat gerakan masyarakat sekaligus mendorong perhatian pemerintah terhadap persoalan lingkungan di Deiyai.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun kesadaran bersama bahwa menjaga Danau Tigi adalah tanggung jawab kita semua,” tegasnya.
Pertemuan WALHI Papua dan KOMANDAN Deiyai menjadi langkah awal untuk memperkuat kerja sama antara organisasi lingkungan dan komunitas lokal.
Data hasil pemantauan lapangan selanjutnya diharapkan menjadi dasar pembahasan lebih luas bersama pemerintah daerah, DPRD, tokoh adat, masyarakat dan kelompok lingkungan terkait kondisi serta masa depan ekosistem Danau Tigi.(**)





